Sign In

Login

Forgot your password?

Create Account

Register

  • Finroll Building, Kwitang Raya No. 1, 10420
  • +62 (21) 3193-5519
0

Tiga Aturan Regulasi Insentif Fiskal Mobil Listrik Tengah Di Bahas Kemenkeu

Tiga Aturan Regulasi Insentif Fiskal Mobil Listrik Tengah Di Bahas Kemenkeu

Keterangan foto : Ilustrasi

Finroll.com — Setidaknya ada tiga regulasi yang tengah dibahas terkait dengan insentif bagi pengembangan mobil listrik di Indonesia oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu)

Tiga aturan tersebut terdiri dari perubahan skema Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor komponen mobil listrik, dan bea masuk impor komponen mobil listrik.

Untuk aturan PPnBM, pemerintah rencananya akan mengubah perhitungan dasar pengenaan PPnBM kendaraan bermotor,” jelas Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Rofyanto Kurniawan.

Dia merinci, jika dalam aturan sebelumnya, yakni Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah, PPnBM didasarkan atas kapasitas mesin.

Namun, di aturan yang baru, pemerintah akan mengenakan PPnBM sesuai dengan konsumsi bahan bakar dan emisi karbonnya.

“Contohnya mobil kapasitas 1.500 cc selain sedan dikenakan PPnBM sebesar 10 persen hingga 15 persen, sementara sedan malah dikenakan PPnBM 30 persen. Yang pasti, PP-nya sudah kami revisi dan memasuki tahap akhir.

Tapi yang pasti, semakin rendah emisi karbonnya, PPnBM akan semakin rendah,” jelas Rofyanto dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Kemudian untuk insentif PPN dan bea masuk, ujar Rofyanto, hal itu akan diatur menggunakan peraturan menteri keuangan. Insentif PPN dan bea masuk ditujukan bagi impor komponen yang dibutuhkan dalam membangun pabrik mobil listrik di Indonesia.

Dua insentif itu juga akan ditujukan bagi impor komponen mobil terurai dengan komponen tidak lengkap (Incompletely Knock Down Unit/IKD) dan mobil terurai dengan komponen lengkap (Compeletly Knock Down Unit/CKD).

“Dengan insentif ini, kami harapkan dengan bisa mendorong tumbuhnya industri mobil listrik dalam negeri. Ke depan, industri otomotif lima tahun lagi akan semakin besar. Nanti ke depan teknologi mobil akan beralih ke tenaga baru, nanti kami akan support ke arah itu,” tuturnya.

Ia berpendapat, seharusnya dengan insentif-insentif tersebut Diatas, hal ini sudah cukup mengakomodir pengembangan industri mobil listrik di tanah air.

Meski demikian, Rofyanto m mastikan bahwa insentif itu hanya akan diberlakukan untuk mobil listrik dengan tenaga baterai, seperti yang tercantum di perpres yang dimaksud.

“Mobil listrik ini beragam, ada yang hybrid, ada yang berbasis baterai, ada yang semi dan semacamnya. Kalau perpres ini kami hanya support yang baterai saja,” pungkasnya.(red)
Artikel Asli

Leave a Comment

0